beritadunesia-logo

Kirab Pusaka Abirawa

Kirab pusaka merupakan suatu kegiatan rutin setiap tahunnya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Batang, juga merupakan perayaan menyambut hari jadi Pemkab. Batang. Penyelenggaraan Kirab Pusaka ini baru dimulai sejak tahun 2003 dengan tujuan untuk :

1. Melestarikan budaya leluhur sebagai agenda kepariwisataan di Kabupaten     Batang;
2. Sebagai bukti bahwa Kabupaten Batang telah ada sejak lama, sekitar 500
   tahun silam, namun pada tahun 1936 s/d 7 April 1968 bergabung dengan
    Kabupaten Pekalongan;
3. Sebagai prosesi ritual tolak balak.

Pusaka inti yang dikirab adalah Pusaka Abirawa yaitu pusaka yang berbentuk tombak dengan panjang sekitar 6 (enam) meter yang merupakan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Raden Sayid Nur Rochmat yang lebih dikenal dengan nama Kanjeng Sunan Sendang. Beliau berasal dari desa Sendangduwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sunan Sendang adalah Aulia/Wali pada jaman kasultanan Demak Bintoro di bawah Sultan Trenggono. Beliau menimba ilmu pada Sunan Drajat, oleh karena itu setelah Sunan Drajat wafat, beliau menggantikan kedudukannya sebagai Dewan Wali atau Wali Songo. Sunan Sendang lahir tahun 1520 M dan wafat 1585 M.

Semula Pusaka Abirawa berada di Masjid R. Nur Rochmat di Paciran Kabupaten Lamongan. Selanjutnya berada di Sedayu (Gresik), karena salah satu keturunannya ada yang menjadi Bupati di tempat itu. Selanjutnya dibawa keturunan Sajid Nur Rochmat yang berada di Pasuruan. Setelah itu terus mengikuti keturunannya yang berada di Wiradesa Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. Di Batang, Pusaka Abirawa menjadi pusaka andalan Trah Sayid Nur Rochmat, yaitu:
1.       R.T Suroadiningrat I (Kanjeng Seda Rawuh);
2.       Pangeran Ario Suroadiningrat II;
3.       R.T.A Djayengrono IV;
4.       R. Adipati Ario Puspodiningrat I;
5.       R. Adipati Ario Puspodiningrat II;
6.       R. Tumenggung Notodiningrat;
7.       R. Adipati Ario Suryoadiningrat (Bupati Batang Tahun 1886 M–1912 M)

Selain Pusaka Abirawa, ada 7 pusaka lain  yang ikut dikirab, yaitu : Pusaka Karno Tanding, Keris Kyai Panji, Tombak Kyai Cepret, dan 4 tombak. Pusaka–pusaka tersebut merupakan peninggalan Pangeran Kyai Adipati Mandurorejo (Bupati Batang I), Kyai Tumenggung Bahurekso (Bupati Kendal), R.T . Pusponegoro I, Pangeran Diponegoro, R.T. Notodiningrat (Bupati Batang), R. Adipati Ario Suryodiningrat (Bupati Batang). Pembawa 8 pusaka inti tersebut adalah orang yang masih mempunyai trah Sayid Nur. Terdapat pula 20 pusaka pengiring yang dibawa oleh 20 orang yang berpakaian prajurit.
 
Sepanjang perjalanan Kirab Pusaka, Bapak Bupati Batang beserta Ibu menebarkan Udik-udik (uang logam yang dicampur dengan beras kuning) kepada masyarakat yang menyaksikan kirab tersebut. Turut diarak pula 2 buah gunungan yang terbuat dari hasil panen berupa buah-buahan dan palawija. Prosesi Kirab Pusaka berakhir di halaman Pendopo Kabupaten Batang, selanjutnya pusaka-pusaka disemayamkan dan 2 gunungan yang berisi hasil panen diperebutkan oleh masyarakat. Sebagai hiburan diadakan pentas kesenian daerah/tradisional.